oeoe-op

Si Budi Kecil..

September 15, 2009 – 8:36 am
".. Anak sekecil itu berkelahi dengan waktu demi satu tujuan yang kerap ganggu tidurmu.."

Sebaris lirik lagu Iwan Fals berjudul Sore tugu Pancoran itu terngiang dalam benak gw saat mata kantuk ini menyaksikan sesosok bocah mungil bergelantungan di bis yang gw tumpangi.

Rasa takut tak terlihat sedikitpun dari wajahnya. Sebaliknya wajah-wajah kami (penumpang) yang dibuat khawatir melihat bocah itu. Senyum polos tanpa beban dia tebarkan kepada kami seraya membagikan sebuah amplop kecil bertuliskan "Mohon sumbangannya untuk biaya sekolah..dst".

Anak ini adalah satu contoh dari sekian juta anak yang menggantungkan hidupnya pada pemberian orang lain. Anak ini adalah salah satu korban ketidak pedulian masyarakat terhadap lingkungan mereka. Anak ini adalah sedikit bukti kegagalan pemerintah memeratakan keadilan di semua sektor dan lapisan masyarakat.

Pernah gw coba membayangkan memposisikan diri seperti anak itu, yang terlintas hanyalah kesengsaraan, kesusahan, ketidak pastian, dan tiadanya harapan yang terus menyeret kedalam kefakiran. Baru membayangkannya saja sudah bertubi-tubi derita yang nantinya gw dapat -walaupun mungkin kenyataannya tidak seperti itu, atau bisa jauh lebih buruk dari itu-.

Dikala anak-anak se-usia mereka minum susu, mereka menyantap debu tiap hari. Dikala anak-anak seumuran mereka makan dengan kenyang, mereka mengganjal perut dengan batu, Ketika anak-anak seumuran mereka sekolah, membeli baju baru, sepatu baru, mainan baru dan semua yang serba baru, mereka mungkin membayangkannya pun tidak.

Mereka tak kenal selimut hangat dikala udara dingin, atau Air Conditioner (AC) kala udara panas, atap ketika hujan atau tempat bernaung ketika sengatan matahari membakar hati. Yang mereka tahu hanya suhu ketidak berpihakan kepada nasib mereka.

Sewaktu Anak-anak lain memeluk ibu mereka dikala senang dan sedih, mengadu kepada ayah mereka dikala mendapat masalah, dan bercerita kepada kakak dan adiknya. Mereka hanya mengolah imajinasi dalam pikiran mereka apa sebenarnya kasih sayang dan cinta itu?

Ke arah manapun kaki melangkah, mereka ada. Ke sudut manapun pandangan dialihkan, mereka ada. Ke manapun anda menghindar, mereka selalu ada laksana bayangan yang selalu rekat dengan tuan-nya.

Inilah realitas diri kita sebenarnya, kenyataan lingkungan masyarakat kita, bukti konkrit negara kita. Fakta yang tak bisa dibantah hanya dengan argumen dan wacana-wacana di TV dan koran. Fakta yang tidak akan terselesaikan hanya dengan waktu satu atau dua bulan saja.

Inilah wajah kita sesungguhnya. Wajahnya mereka yang egois, wajahnya mereka yang tak pernah peduli, wajahnnya mereka yang sombong dan angkuh dengan egois dan ketidak peduliannya itu.

Kapan lagi, dimana lagi, akan kita temukan wajah-wajah pribumi yang ramah dengan lingkungannya, peduli dengan nasib sesamanya. Kapan lagi.. Dimana Lagi..??

 
..Atau mungkin saat mereka bertemu dengan anda?..

———–

Ditulis saat pulang kantor,naik kopaja,dan ada anak usia 5 tahunan "ngamen".. (waktu itu sekitar jam 10 malam)
 


No comments yet.

Post a Comment