oeoe-op

Mereka itu titipan..

April 7, 2009 – 11:24 am
Alangkah bersyukurnya orang-orang yang dianugerahi kemudahan untuk menikah oleh Allah SWT. Diluar apakah pernikahan itu bertujuan "mempercepat" pernikahan atau "tergesa-gesa" dalam melangsungkan pernikahan.

Menikah adalah sunnah Nabi yang mungkin menjadi dambaan umat Islam manapun. Karena bernilai ibadah seuah pasti niat menikah-pun tentunya hanya karena Allah semata. Menikah merupakan pergantian status, menghalalkan yang tadinya dilarang sebelum menikah, melestarikan keturunan dan mulainya kehidupan baru untuk kedua mempelai.

Harapan dari semua yang akan, sedang ataupun sudah menjalani pernikahan adalah agar keluarga yang mereka bangun akan menjadi keluarga yang sakinah, warohmah dan mawaddah. Sebuah konsep standar bagi keluarga muslim dimanapun.

Tidak mudah menyatukan dua sifat dari dua manusia yang berbeda jenis. Jarang sekali ditemukan persamaan, yang ada malah beragam perbedaan yang abadi. Tapi justru disitulah kebesaran Allah terlihat karena perbedaan itu muncul tidak lain untuk melengkapi antara satu sama lain.

Tidak ada sanggahan kalau keluarga Rasul adalah contoh nyata yang harus digugu oleh setiap keluarga muslim, Dalam ketaatan kepada Allah, Selain Rasulallah keluarga Nabi Ibrahim-pun pantas untuk kita jadikan referensi.

Nabi Ibrahim adalah contoh kepala keluarga yang selalu mengedepankan perintah Allah daripada ego Beliau sendiri. Seorang anak yang kelahirannya Beliau tunggu selama bertahun-tahun dengan ikhlas beliau kurbankan karena perintah Allah yang datang lewat mimpinya.

Seorang Nabi Ismail pun merupakan contoh anak sholeh yang taat kepada orang tuanya, tanpa berpikir panjang beliau menyambut permintaan ayah-nya itu dengan ikhlas.

"..Kalo memang Allah memerintahkan untuk menyembelihku, lakukanlah.."

Sosok istri yang sholehah juga tergambar dalam sosok Siti Hajar, Ibunda Nabi Ismail. Beliau pun ikhlas anak satu-satunya disembelih atas perintah Allah.

Subhanallah.. Sungguh potret keluarga yang seharusnya menjadi contoh dan panutan bagi keluarga-keluarga muslim. bagaimana kemampuan mereka untuk mengenyampingkan kepentingan pribadi dan selalu mengharap ridha Allah semata.

Kalo boleh membandingkan dengan perilaku keluarga muslim zaman sekarang rasanya seperti "punduk merindukan bulan" untuk dapat meniru keluarga Nabi Ibrahim. memang tidak sedikit juga keluarga yang berusaha untuk selalu dalam ridha-Nya, tapi sepertinya lebih banyak yang jauh dari ridha-Nya.

Jarang sekali orang tua mau mengajak keluarganya untuk selalu mendekatkan diri dengan Rabb-nya. Sedikit sekali mereka memilih untuk liburan ke tempat ibadah atau bertamasya mengenal Allah. Mereka lebiha senang mengajak keluarganya ke Mall, taman hiburan dan sebagainya.

Mereka menyekolahkan anak-anak mereka disekolah-sekolah bergengsi yg jauh sekali dari nilai-nilai Islam, padahal akidah buah hati mereka dipertaruhkan. Bahkan mungkin mereka akan lebih merasa bangga bila anaknya lulus dengan nilai yang baik dibandingkan bila anaknya bisa membaca AlQuran. Mereka akan "cuek" bila anaknya tidak mengerjakan sholat tapi akan marah bila anaknya tidak mengerjakan PR.

Pesantren dan lembaga pendidikan Islami tidak akan mereka lirik sama sekali, karena lembaga-lembaga pendidikan islam ini sudah difitnah oleh antek-antek sekuler dan liberal, sehingga tergambarlah wajah pesantren seperti sekarang ini. Masa depan suram, terbelakang, hanya untuk orang-orang bermasalah, dan sarang teroris -Naudzubillah.

Padahal bila para orangtua itu mau riset sedikit saja, di tanah air ini banyak sekali orang-orang terpelajar dan bahkan menjadi tokoh nasional negeri ini yang lahir dari dunia pesantren. Sebaliknya orang-orang yang katanya terpelajar dan mengenyam pendidikan dinegara-negara sekuler hanya menjadi penghianat dan menyengsarakan rakyat dengan korupsi-korupsinya.
 
Akibatnya, hasil dari mejauhkan keturunan mereka dari agama Allah adalah kerugian besar bagi keluarga mereka. Tidak jarang seorang anak membangkang perintah orang tuanya walaupun perintah itu untuk kebaikan dirinya. Bahkan setelah tua dan pikun mereka tak segan-segan mengirimkan orang tua mereka ke panti jompo atau bahkan "membuang" mereka. Naudzubillah.

Apakah kecintaan orangtua kepada anak harus mengalahkan kecintaan mereka kepada Allah??

Apakah mereka sudah siap mempertanggung jawabkan "titipan" Allah itu kelak?

Wallahu’alam
——————-

ditulis saat ga sengaja melihat foto-foto pernikahan sahabat-sahabat dekat.. :P


No comments yet.

Post a Comment