oeoe-op

Idul Adha..

December 16, 2008 – 11:38 am

Baru beberapa minggu setelah tanggal 10 Dzulhijjah, tapi suasana Idul Adha sudah tidak terasa lagi. Terasa sekali bedanya dari tahun ke tahun.

Bicara tentang Idul Adha memang tidak akan lepas dari ibadah Qurban, dan kalo bicara kurban rasanya tidak lengkap kalo tidak mengingat lagi kisah atau sejarah dari ritual Qurban itu sendiri.

Qurban adalah bentuk kepatuhan seorang hamba kepada Allah dengan cara menyembelih hewan qurban. Hikmah lainnya adalah bentuk kepedulian terhadap sesama, karena utamanya daging qurban diberikan kepada yang membutuhkan.

Nabi Ibrahim adalah contoh kepala keluarga yang selalu mengedepankan perintah Allah daripada ego-nya sendiri. Seorang anak yang kelahirannya Beliau tunggu selama bertahun-tahun dengan ikhlas beliau kurbankan karena perintah Allah yang datang lewat mimpinya.

Seorang Nabi Ismail pun merupakan contoh anak sholeh yang taat kepada orang tuanya, tanpa berpikir beliau menyambut permintaan ayah-nya itu dengan ikhlas.

"..Kalo memang Allah memerintahkan untuk menyembelihku, lakukanlah.."

Sosok istri yang sholehah juga tergambar dalam sosok Siti Hajar, Ibunda Nabi Ismail. Beliau pun ikhlas anak satu-satunya disembelih atas perintah Allah.

Subhanallah.. Sungguh potret keluarga yang seharusnya menjadi contoh dan panutan bagi keluarga-keluarga muslim. bagaimana kemampuan mereka untuk mengenyampingkan kepentingan pribadi dan selalu mengharap ridha Allah semata.

Kalo boleh membandingkan dengan perilaku keluarga muslim zaman sekarang rasanya seperti "punduk merindukan bulan" untuk dapat meniru keluarga Nabi Ibrahim. memang tidak sedikit juga keluarga yang berusaha untuk selalu dalam ridha-Nya, tapi sepertinya lebih banyak yang jauh dari ridha-Nya.

Jarang sekali orang tua mau mengajak anak-anaknya untuk selalu mendekatkan diri dengan Rabnya. Bahkan Mereka mungkin akan lebih merasa bangga bila anaknya lulus dengan nilai yang baik dibandingkan bila anaknya bisa membaca AlQuran. Mereka akan "cuek" bila anaknya tidak mengerjakan sholat tapi akan marah bila anaknya tidak mengerjakan PR.

Begitupun dengan anak-anak mereka. Tidak jarang seorang anak membangkang perintah orang tuanya walopun perintah itu untuk kebaikan dirinya.

Apakah kecintaan orangtua kepada anak harus mengalahkan kecintaan mereka kepada Allah??

Apakah mereka sudah siap mempertanggung jawabkan "titipan" Allah itu kelak?

Wallahu’alam


No comments yet.

Post a Comment