Uki Senin Pagi..
April 12, 2008 – 2:50 amMatahari sudah mulai naik, kepulan asap dan bisingnya suara mesin dan klakson angkutan dari berbagai jenis bis kota, angkot, taksi, ojek maupun kendaraan pribadi, sudah mulai menutupi pandangan, memekakan telinga dan membuyarkan lamunan siapa saja yang berada di kawasan itu, Orang-orang dari berbagai umur dan jenis kelamin dengan bermacam kepentingan dan tujuan pun sudah mulai berdatangan satu demi satu. Perbedaan status sosial dan asal daerah juga dapat terlihat dari cara berpakain dan penampilan mereka, serta dari obrolan mereka yang sesekali terdengar menggunakan bahasa daerah. Di negeri kami penampilan luar masih menjadi acuan untuk menentukan kedudukan seseorang dalam masyarakat, walaupun mereka semua tau dan sadar kalau semua itu hanya topeng belaka..
Tak terasa keadaan di sekelilingku sudah beranjak lebih sesak dari sebelumnya, dan matahari semakin meninggi. Jeritan suara peluit petugas, tawaran calo dan teriakan kondektur seakan-akan ingin saling mengalahkan satu sama lain. Nyanyian pengamen dan rengekan pengemis juga tak mau kalah ikut meramaikan suasana pagi itu.
Yang paling menarik perhatianku adalah perilaku penumpang yang seperti besi berani ketika melihat angkutan yang mereka nantikan sudah tiba. Mereka berlarian mengejar angkutan itu tanpa mempedulikan arus lalu lintas, bahkan tanpa mempedulikan keselamatan diri mereka sendiri. Kemacetan pun tidak bisa dihindari, petugas polisi yang sedari tadi terus menerus menghimbau penumpang dan sopir angkutan agar mematuhi rambu- rambu lalu lintas, sama sekali tidak mereka gubris. Kejadian serupa selalu terjadi berulang-ulang ketika angkutan yang mereka tunggu sudah tiba ditempat itu.
“Ketuk tilu baheulamah…jaipongan aduh manis,…na..na..naa “
Sekilas terdengar suara lagu dari daerah Jawa Barat yang tidak asing lagi di telingaku, Pandangan bola mataku yang selalu liar memperhatikan keadaan disekitar, seakan tertarik oleh sosok orangtua berpakaian, bersandal dan berpeci serba hitam dengan sebuah seruling dan tas kecil yang ia gantungkan dipinggangnya.
Tape player butut yang ia gendong dan selalu mengalunkan lagu-lagu dari Jawa barat itu pun ikut meramaikan penampilannya.
“Cring..cring..”
Terdengar suara uang recehan masuk kedalam tas kecil yang merupakan reaksi spontan orang-orang disekitarnya sebagai apresiasi mereka untuk orang tua itu. Akupun tidak tinggal diam, kurogoh uang kecil dari kantong celanaku lalu kuberikan padanya untuk sekedar menunjukan rasa simpatiku atas kerja kerasnya.Ucapan terima kasih terucap dari bibirnya yang sudah mulai keriput itu. Perhatianku terhadap sosok tua itu pun berakhir bersamaan dengan menjauhnya ia dari tempatku berdiri.
Sudah hampir 30 menit sudah aku berdiri ditrotoar jalan ini. Debu dan asap kendaraan seperti sahabat karib yang selalu ikut kemanapun aku pergi.
“ Busss.ssssss…..” ,
Tiba-tiba knalpot salah satu bis kota yang sedang ngetem menyemburkan sisa pembakarannya dan tepat dimukaku.
“Sialan..!!”, makiku dalam hati.
Tapi seperti biasa aku hanya bisa memaki dalam hati tanpa bisa berbuat apa-apa. Teringat beberapa bulan lalu aku melihat berita di Televisi tentang pengujian emisi setiap kendaraan di ibukota dan menurut yang aku dengar kendaraan yang tidak memenuhi standar pengujian emisi tidak diperbolehkan berkeliaran di ibu kota.
“Tapi..Ya sudahlah” Cepat-cepat aku hilangkan pikiran itu dan pergi dari tempat itu, asap yang kotor dan bau juga sempat membuat mataku perih.
Belum sempat aku menghela napas dan membersihkan mataku yang kotor dan perih, “Dug..!!” sebuah sepeda motor yang dinaiki dua orang laki-laki berpakaian serba hijau menyodokku dari belakang.
“Tiiitt…Tiiiitt…” bunyi klaksonnya memekakan telingaku seakan mengatakan kalau aku menghalangi jalannya.
“ Minggir Mas.
“ Ya, Kenapa Pak?”, jawabku spontan dan setengah bingung.
“ Minggiiir..!!”, pintanya dengan nada suara lebih tinggi.
“ Oia..Maaf Pak”
Bergegas aku menjauh beberapa langkah dari tempatku berdiri, dan sepeda motor itupun berlalu dengan kencang. Setengah sadar aku mulai berpikir dan kupandangi tempat kakiku berpijak.
“ini kan trotoar, iya ini kan trotoar !” gumamku dalam hati.
Memang benar, aku berdiri diatas trotoar dan sepeda motor yang menabrakku pun berjalan diatas trotoar, lalu siapa yang salah…?!.
Sepuluh menit telah berlalu, kaki yang sedari tadi berdiri dan sudah mulai terasa lelah kupaksakan untuk terus berdiri. Keringat dingin sudah mulai membasahi dahi dan punggungku. Tak beberapa lama berselang, sebuah mobil sedan mewah berwarna merah lewat tepat didepanku. Karena arus lalulintas yang sedang macet, cukup lama juga sedan merah itu tertahan didepanku.
Beningnya kaca mobil menuntun mataku untuk melihat dua orang lelaki setengah baya dengan jas hitam dan berdasi, terlihat sedang asyik berbicara satu sama lain. Dua buah laptop yang mereka sandarkan di kursi yang terlihat nyaman itu, tampak ikut melengkapi pembicaraan mereka. Panasnya udara pagi itu mungkin tidak mereka rasakan karena AC (Air Conditioner) yang selalu mendinginkan suhu udara di mobil itu. Selintas pikiranku sempat menebak-nebak apa yang mereka bicarakan dan apa pekerjaan mereka.
“Nyaman sekali punya kendaraan sendiri dan jadi orang kaya, mungkin aku tidak akan kepanasan dan kotor seperti ini”, celotehku dalam hati.
Memang kalo dilihat dari keadaanku sekarang ini, sangatlah jauh untuk bisa seperti mereka. Ya, Aku hanya seorang karyawan swasta biasa yang masih selalu bingung memikirkan masa depan. Tapi aku selalu berusaha bersyukur atas semua yang telah aku dapatkan, dan ada sedikit rasa bangga dalam hatiku karena penghasilan yang kudapatkan bukan karena mengambil hak orang lain.
“Mampang..Blok M…Pancoran bawah Blok M..Blok M…”,
Teriakan kondektur bia kota membuyarkan semua lamunanku. Akupun segera mengejar bis yang sudah cukup lama aku tunggu dan nampak sudah cukup sesak itu.
——————————–
Jakarta - 2006

One Response to “Uki Senin Pagi..”
Bravo. Tulisannya mantep banget.
Memang benar, aku berdiri diatas trotoar dan sepeda motor yang menabrakku pun berjalan diatas trotoar, lalu siapa yang salah…?!.
Yang di penjara pak.
By Leonardo Situmorang on Apr 18, 2008