Timpang..
March 4, 2010 – 12:10 pmApalagi cacing-cacing dalam perutku sudah sedari tadi ber-orasi agar segera menurunkan makanan untuk mereka. Tak ayal lagi setelah selesai basa basi dengan empunya hajat tak sedikitpun waktu kusia-siakan untuk menyantap hidangan.
Puas dengan hidangan utama, akupun beralih ke hidangan-hidangan ringan. Mudah sekali segala sesuatu yang memanjakan lidah kuperoleh saat itu.
Semua tamu yang datang terlihat rapi dan tampak sekali kemapanan dari wajah mereka, kemudahan dalam memperoleh rizki dan kebanggaan dari ekspresi yang mereka keluarkan.
Rasa iri pun merasuk kedalam dadaku dengan pertanyaan-pertanyaan keraguan mempertanyakan keadaan nasibku kepadaNya.
"Astaghfirullah.."
Segera kubuang jauh-jauh pikiran yang akan menyeretku ke lubang neraka itu, pikiran yang akan menjadikanku manusia yang tidak bersyukur akan nikmatNya.
Cukup lama juga aku bercengkrama dengan para tamu, sampai saat waktu sudah menunjukan kalau aku harus bergegas pergi dari tempat itu. Kupaksa kakiku meninggalkan kesenangan dan kuseret menuju dunia nyata lagi.
Cukup lama aku menunggu taksi untuk menghantarkan pulang, tapi tak ada satupun taksi yang melintas ditempatku berdiri saat itu.
Matahari terasa terik sekali siang ini, keringat bak banjir bandang mengalir deras dari dahiku. Segera ku cari pepohonan yang agak rimbun untuk sekedar melepas peluh dan mengganti oksigen di paru-paruku dengan yang baru.
Fiuuuh.. kuseka keringat dan kutarik napas dalam-dalam. Aliran darahku mulai lancar ke otak, dan keringatpun lambat-laun mulai kering, udara sejuk pepohonan menambah sejuk suasana saat itu.
Liar mataku menatap sekeliling, terlihat seorang lelaki tua dengan pakaian sederhana tengah berteduh juga tak jauh dari tempatku berdiri. Perhatianku masih tertuju kepada sosok lelaki itu, kuperhatikan gerak tubuh dan ekspresinya dari kejauhan.
Jari-jari tangannya bergerak lincah menghitung lembar demi lembar uang kertas kumal hasil jerih payahnya siang itu. Punggung tuanya yang terlihat sudah membungkuk dia senderkan pada tiang listrik disebelah gitar bututnya.
Tidak tampak kemurungan terpancar dari wajahnya, sesekali tersungging senyum dari bibirnya. Helaan napas panjang menyelingi hisapan rokok yang sedari tadi tersumpal dalam mulutnya.
Disampingnya tampak sebungkus nasi dan seikat air putih yang mungkin sebentar lagi siap dia santap. Benar saja tak lama waktu berselang dengan lahap dia habiskan makannya.
Pakaiannya tak sebagus pakaian yang kupakai, makanan dan minumannya tak seenak yang kumakan, mungkin penghasilannya pun tak sebesar yang kuperoleh. Tapi ada sesuatu yang membuatnya istimewa yaitu kesederhanan dan ketulusan dalam menjalankan hidupnya.
Sungguh Maha SUci Allah, di satu sisi aku diperlihatkan pada kondisi kesenangan, kemudahan akan dunia seakan-akan dunia tak akan berakhir.
Disisi lain Allah memperlihatkan kesederhanaan dan ketulusan yang terpancar dari keadaan hambanya yang sabar. Semua itu tidak lain hanya supaya kita lebih bersyukur.
—-
Ditulis saat ingin menulis cerpen tapi malah curhat..
Seorang teman terlihat sangat sibuk sekali hari itu, ditangannya terdapat beberapa lembar ijazah, surat lamaran dan beberap dokumen lainnya.
Mungkin ada yang sudah melihat sebuah reality show pada salah satu stasiun TV di Indonesia. Reality show ini menampilkan dimana ada seseorang yang berpura-pura meminta tolong kepada orang lain yang dia temui dijalan, warung, rumah dll.
