oeoe-op

Timpang..

March 4, 2010 – 12:10 pm
http://www.gbiputera.org/uploads/dirimg_gbrSiang itu aku menghadiri undangan resepsi pernikahan salah seorang teman. Setelah bercumbu dengan udara dingin AC taksi yang kunaiki, tak lama aku disuguhi berbagai hidangan yang terlihat sangat menggoda lidahku.

Apalagi cacing-cacing dalam perutku sudah sedari tadi ber-orasi agar segera menurunkan makanan untuk mereka. Tak ayal lagi setelah selesai basa basi dengan empunya hajat tak sedikitpun waktu kusia-siakan untuk menyantap hidangan.

Puas dengan hidangan utama, akupun beralih ke hidangan-hidangan ringan. Mudah sekali segala sesuatu yang memanjakan lidah kuperoleh saat itu.

Semua tamu yang datang terlihat rapi dan tampak sekali kemapanan dari wajah mereka, kemudahan dalam memperoleh rizki dan kebanggaan dari ekspresi yang mereka keluarkan.

Rasa iri pun merasuk kedalam dadaku dengan pertanyaan-pertanyaan keraguan mempertanyakan keadaan nasibku kepadaNya.

"Astaghfirullah.."

Segera kubuang jauh-jauh pikiran yang akan menyeretku ke lubang neraka itu, pikiran yang akan menjadikanku manusia yang tidak bersyukur akan nikmatNya.

Cukup lama juga aku bercengkrama dengan para tamu, sampai saat waktu sudah menunjukan kalau aku harus bergegas pergi dari tempat itu. Kupaksa kakiku meninggalkan kesenangan dan kuseret menuju dunia nyata lagi.

Cukup lama aku menunggu taksi untuk menghantarkan pulang, tapi tak ada satupun taksi yang melintas ditempatku berdiri saat itu.

Matahari terasa terik sekali siang ini, keringat bak banjir bandang mengalir deras dari dahiku. Segera ku cari pepohonan yang agak rimbun untuk sekedar melepas peluh dan mengganti oksigen di paru-paruku dengan yang baru.

Fiuuuh.. kuseka keringat dan kutarik napas dalam-dalam. Aliran darahku mulai lancar ke otak, dan keringatpun lambat-laun mulai kering, udara sejuk pepohonan menambah sejuk suasana saat itu.

Liar mataku menatap sekeliling, terlihat seorang lelaki tua dengan pakaian sederhana tengah berteduh juga tak jauh dari tempatku berdiri. Perhatianku masih tertuju kepada sosok lelaki itu, kuperhatikan gerak tubuh dan ekspresinya dari kejauhan.

Jari-jari tangannya bergerak lincah menghitung lembar demi lembar uang kertas kumal hasil jerih payahnya siang itu. Punggung tuanya yang terlihat sudah membungkuk dia senderkan pada tiang listrik disebelah gitar bututnya.

Tidak tampak kemurungan terpancar dari wajahnya, sesekali tersungging senyum dari bibirnya. Helaan napas panjang menyelingi hisapan rokok yang sedari tadi tersumpal dalam mulutnya.

Disampingnya tampak sebungkus nasi dan seikat air putih yang mungkin sebentar lagi siap dia santap. Benar saja tak lama waktu berselang dengan lahap dia habiskan makannya.

Pakaiannya tak sebagus pakaian yang kupakai, makanan dan minumannya tak seenak yang kumakan, mungkin penghasilannya pun tak sebesar yang kuperoleh. Tapi ada sesuatu yang membuatnya istimewa yaitu kesederhanan dan ketulusan dalam menjalankan hidupnya.

Sungguh Maha SUci Allah, di satu sisi aku diperlihatkan pada kondisi kesenangan, kemudahan akan dunia seakan-akan dunia tak akan berakhir.

Disisi lain Allah memperlihatkan kesederhanaan dan ketulusan yang terpancar dari keadaan hambanya yang sabar. Semua itu tidak lain hanya supaya kita lebih bersyukur.

—-

Ditulis saat ingin menulis cerpen tapi malah curhat.. :D


Deadline..

February 12, 2010 – 12:32 pm
http://ichingquotes.blogspot.com/Sudah seminggu ini teman kosan gw pulang malem terus, bahkan beberapa hari terakhir nyaris subuh dia baru terlihat dikamarnya.

"Tumben beberapa hari ini pulang subuh terus bos..", tanya gw memulai pembicaraan, saat itu menjelang subuh.

"Iya neh mas, kerjaan lagi numpuk.. bentar lagi deadline soalnya" jawabnya dengan lesu.

Mungkin beberapa dari kita pernah atau bahkan sering mengalami situasi "buruk" seperti itu, situasi dimana waktu seakan seperti pedang yang siap membelah tubuh kita. Situasi yang memungkinkan gampangnya segala macam penyakit hinggap dan menggerogoti tubuh kita.

Sebut saja contohnya dalam sebuah proyek. Pada umumnya, pekerjaan yang diserahkan kepada kita pasti ada tenggat waktunya. Kapan pekerjaan dimulai dan kapan akan berakhir.

Dari waktu yang diberikan kepada kita jelas sekali terlihat dalam project plan lama pengerjaannya, apa saja yang harus dilakukan setiap waktunya, dan diusahakan tidak ada sedikit[un waktu yang terbuang secara percuma (daripada kena penalty..).

Satu fase saja dari planning yang sudah dibuat kita abaikan, biasanya akan berdampak ke fase berikutnya. Karena fase yang satu dengan yang lainnya saling berelasi dengan waktu sebagai kontrolnya.

Dan bila memang nekad "ditabrak" juga segala perencanaan, yang dibuatnya saja memerlukan analisa dan pemikiran yang maksimal itu. Maka kita tau sendiri akibat yang akan ditimbulkan. Omelan atasan, gunjingan rekan, harus kerja lembur dan yang pasti kita dinilai tidak mempunyai kinerja yang bagus dimata atasan dan pihak yang terkait dengannya.

Mungkin itu pula yang terjadi pada teman kosan gw itu, sampai dia harus memaksakan tubuh dan pikiran bekerja "extra" seminggu terakhir ini.

"Gw terlalu nyantai pada tahap-tahap awal mas.. ", Jawab dia waktu gw tanya kenapa ko bisa deadline seperti ini.

Kalo boleh dianalogikan, setiap manusia sebetulnya menangani sebuah proyek yang diberikan oleh Allah kepada mereka di dunia ini. Proyek "pengabdian" tanpa batas dengan waktu yang sudah ditentukan pula.

Dimulai saat akhil baligh sampai malaikatul maut menghampiri dia. Diantara fase itu merupakan fase dimana manusia seharusnya melakukan perencanaan dan mengaplikasikan segala kemampuannya untuk Sang Pemberi "proyek" yaitu Allah SWT.

Dan bila saat waktu itu penyerahan pekerjaan kita sudah diambang batas, kebanyakan dari kita baru "sadar" kalo selama ini kita banyak menyia-nyiakan waktu dan tidak ada kesempatan untuk memulai lagi.

Tinggal tunggu "penalty" dari Yang Maha Besar..

Wallahualam bishawab

—————–

Ditulis saat kena "deadline" juga hehe..


Pengaruh Buruk ..

January 8, 2010 – 10:26 am

http://hackcartoonsdiary.com/wp-content/uploads/2009/11/Devils_Guide_to_IT.gifAndi anak yang baik dan supel dalam bergaul. Suatu hari dia diajak temannya untuk mencicipi "ganja" (salah satu jenis narkoba) di belakang kampungnya. Pertama kali mencoba dia merasa kurang merasa nyaman dan masih biasa saja.

Sehari kemudian temannya kembali mengajak Andi untuk menghisap barang itu lagi, dan kali ini Andi mulai merasakan nikmatnya barang haram itu. Hari ketiga, tanpa disuruh Andi yang sudah merasakan nikmatnya menghisap ganja datang kerumah temannya, padahal temannya tidak mengajak Andi. Tapi karena Andi tiba-tiba datang, Akhirnya mereka kembali menghisap ganja berdua.

Dihari ke empat, Andi sudah mulai sedikit ketagihan. Pagi-pagi sekali dia pergi kerumah temennya dengan harapan ada ganja disana. Malang bagi Andi, temannya tidak ada dirumah yang otomatis barang yang dia harapkan-pun tidak ada.

Sedikit stress karena sesuatu yang dia inginkan tidak ada, membuat Andi marah-marah dirumahnya. Ibu Andi bingung dan bertanya-tanya dalam hati, kenapa Andi pulang marah-marah? Dengan senyum ikhlasnya ibu Andi menghampirinya.

"Kamu kenapa anakku, adakah yang bisa ibu bantu untuk sekedar meringankan bebanmu?" tanya sang ibu dengan lembut dan penuh kasih sayang.

Andi serba salah, satu sisi dia ingin jujur kepada ibunya. Selama ini Andi memang pantang berbohong kepada ibunya. Disisi lain ada hasrat dan sugesti kuat dibenaknya, keinginan untuk menghisap ganja lagi.

Andi sangat bimbang sekali kala itu, dia dilema antara jujur dan tidak jujur. Diapun menjawab pertanyaan ibunya.

"Aku.. akuu.. mmmhh.. Tadi aku tidak sengaja menabrak tukang somay dikampung sebelah bu, abang-nya minta ganti rugi" ucapnya terbata-bata.

Kilatan dusta yang dipercikkan setan sudah menjalar di otaknya, setan didalam aliran darahnya sudah menguat dan bersiap menguasai hati Andi.

"Innalillah.. kirain ada apa, Berapa yang harus kamu ganti nak?" tanya sang ibu.

"Hmmmh.. abangnya minta 50 ribu.." sahut Andi lesu.

Setan-setan dalam tubuh Andi sudah mulai tersenyum tanda akan diraihnya kemenangan mereka. Gerombolan mahkluk laknat itupun sudah memulai serangannya ke bagian tubuh Andi yang paling sendisitif, yaitu hatinya.

"Ini, kebetulan tadi siang ada pesanan jahitan yang lumayan banyak. Pakai uang ini nak.. senyumlah lagi, jangan kau cemberut seperti itu. Ibu bahagia bila kamu bahagia nak.."

Ibu Andi menyodorkan uang 50 ribu hasil menjahitnya. Uang yang dengan keringat dan jerih payahnya semalaman menyelesaikan jahitan, ikhlas dia berikan untuk anak tersayangnya itu.

Tanpa basa-basi Andi yang hatinya sudah dikuasai setan, mengambil uang itu dan segera pergi keluar rumah untuk satu tujuan. Ia pergi kerumah tetangganya di pinggiran kampung.

Sewaktu sama-sama menghisap ganja dirumah temannya. Andi sempat bertanya darimana temannya dapat barang itu. Temannya dengan sigap menunjuk kearah rumah tetangganya yang letaknya dipinggir kampung. Rumah yang sedang dituju Andi saat ini, Iya, Andi akan menggunakan uang ibunya untuk membeli barang haram itu.

Astaghfirullah, dari cerita diatas ternyata hanya butuh empat kali percobaan "membiasakan" menghisap ganja saja bagi setan untuk menjerumuskan seorang Andi kedalam kesesatan. Andi yang lugu bahkan tega menipu ibunya sendiri.

Itulah pengaruh buruk, satu kali masih diajak, dua kali minta diajak, tiga kali dia berusaha mencari sendiri.. Nauudzubillah..

——-

ditulis saat ingat masa ugal-ugalan dulu, hmmh maaf ibu. :(

 

Ampunan-Nya ..

January 7, 2010 – 4:32 am
 
Suatu waktu dalam sebuah diskusi,

"Coba-inget-inget dan jawab dengan jujur, banyakan mana antara dosa dan pahala lo sampai sekarang?" tanya seorang teman.

"Hmmh.. kayaknya banyakan dosanya" jawabku singkat.

"Kalo banyakan dosanya, kenapa masih percaya diri bakal selamat di akhirat kelak?" lanjutnya.

"Tapi setiap orang bisa berubah dan bertobat kan?" jawab gw tak mau kalah.

"Iya,OK-lah setiap orang bisa berubah dan bertobat. Tapi seiring berjalannya waktu dosa-dosa dia-pun semakin bertambah dan lambat laun akan melampaui jumlah pahalanya kan?"  

Hmmh.. Kembali gw dibuat termenung dengan kalimat demi kalimat yang mengalir dari mulut saudaraku itu. Kaimat-kalimat yang membuat gw tersungkur betapa tak berartinya diri ini dihadapanNya.

"Lalu, apa yang harus kita lakukan supaya dosa ga selalu diatas melampaui pahala kita..?" tanyaku melanjutkan pembicaraan kami.

"Seperti yang telah sedikit disinggung diatas tadi, ya bertobatlah.. bertobat dengan sungguh-sungguh dan terus menerus. Bila melakukan dosa langsung bertobat, sesali, jangan diulangi dan lanjutkan dengan beramal baik.. terus menerus" jawabnya dengan tegas.

Rasul SAW, manusia mulia, manusia yang dijamin masuk surga oleh Allah. Beliau selalu mencontohkan minimal 70 kali dalam sehari meminta ampun kepada Allah. Apalagi gw yang dosanya laksana buih air dilaut ini.

Sungguh sangat tak mungkin meraih kebahagiaan akhirat hanya mengandalkan amal ibadah saja,sekali lagi sangat tidak mungkin. Dan menggapai AMPUNAN ALLAH adalah harga mati yang harus didapatkan oleh setiap muslim.

Betapa Allah Maha Pengampun dan Dia sangat menyukai orang-orang yang bertobat dengan tobat yang bersungguh-sungguh.

Saat terlahir ke dunia kita menangis dan orang-orang disekitar kita bersuka cita, maka besuka citalah (dengan Ampunan-Nya) saat kita mati dan biarkan mereka menangis mengiringi kepergian kita menghadapNya.

—————-

Ditulis setelah dengar tausiah saat acara halal bihalal SMA.


Dunia - akhirat ..

December 30, 2009 – 3:22 am
http://www.bbc.co.uk/radio3/freethinking/2007/assets/content/freedom/cartoon.jpg"Tahukah kawan, nasib kita di akhirat kelak ditentukan oleh keadaan kita di dunia?"

"Dan tahukah pula kau kawan, perbandingan dunia dengan akhirat itu? akhirat laksana laut yang luas, dan dunia ibarat tetesan air seperti air yang menetes dari jariku ini.."

Ucap sahabatku sesaat setelah kami selesai makan pecel lele di sekitar Pancoran, Matanya yang tajam tertuju padaku sambil memperlihatkan tetesan air yang menggantung pada ujung jari telunjuknya.

Gw terdiam sesaat seraya berpikir dan menyerap semua perkataannya. Gw bayangkan bila semua air laut dirubah menjadi tetesan-tetesan air, tentu akan menghasilkan tetesan-tetesan yang tak terhingga jumlahnya.

Lalu gw analogikan bila salah satu tetesan air itu adalah lama usia gw didunia, dan sisa tetesan yang jumlahnya tak terhingga itu adalah negeri akhirat yang akan gw hadapi dan lalui kelak. MasyaAllah sangatlah jauh sekali perbedaannya.

Bekal yang akan kita gunakan untuk mengarungi akhirat yang lamanya tak terhingga itu hanya dikumpulkan dalam waktu kita hidup didunia saja. Dan kebanyakan kita terlalu terlena dengan indahnya dunia sehingga tidak mau mempersiapkan bekal dengan bersungguh-sungguh.

Ada sebuah bom dihadapan seseorang dan dia hanya diberi waktu beberapa menit untuk menjinakkannya sedang dia bukan seorang yang ahli dalam menjinakkan bom.

Tapi sebelumnya dia diberitahukan bahwa untuk menjinakkan bom itu bisa dilakukan dengan dua opsi, yaitu pertama, dia boleh menjinakkan sendiri secara langsung. kedua, dia didampingi oleh seorang yang ahli dengan syarat beberapa bulan sebelumnya harus ikut kelas bimbingan ahli itu terlebih dahulu.

Kebanyakan kita dengan percaya diri (sadar atau tidak) akan memilih opsi yang pertama karena terlalu sibuk dan tak ada waktu untuk memilih opsi kedua. dan kita akan bisa menebak kejadian berikutnya, "DUUAARR..RR" bom pasti akan meledak dan menhancurkan tubuh kita.

Itulah diri kita yang sesungguhnya, manusia yang terlalu percaya diri dan sombong dalam menghadapi negeri akhirat, seakan-akan para malaikat penjaganya bisa mereka sogok, mereka rayu, mereka paksa dan tindas seperti yang sering mereka lakukan di dunia. dengan congkaknya kita lebih suka bersantai ria dibandingkan bersungguh-sungguh dalam menghadapinya.

Begitupun untuk urusan akhirat, laksana sebuah bom waktu yang akan meledak setiap saat, ia sudah terbentang dihadapan kita. Dengan opsi yang mana kita akan menjinakkannya? dengan opsi pertama yang tanpa persiapan? atau opsi kedua yang dengan persiapan?

Allah sudah jelas-jelas memperingatkan hambanya agar tidak terlena oleh gemerlapnya dunia dan menyeru agar waktu di dunia tidak disia-siakan dengan sesuatu yang tidak bermanfaat. Sebaliknya dunia itu harus dijadikan sebuah tempat dimana kita ikhlas beramal, beribadah dan memohon bimbinganNya agar selamat dari Azab-Nya kelak.

Subhanallah, gufranaka Ya Allah, inni kuntu minadzolimin..

Gw hanya bisa bertasbih dan memohon ampun kepadaNya. Terbayang dalam benak gw lamanya perhitungan dan kehidupan di negeri akhirat itu. terngiang pula dalam ingatan gw begitu gampangnya gw menyia-nyiakan waktu di dunia yang sangat singkat ini.

——-

Ditulis sesaat setelah liat berita di detik.com tentang pembelian mobil baru bagi pejabat seharga 1.3 M permobilnya.. innalillah. :(


Prepare..

December 23, 2009 – 9:06 am
http://www.aleph.se/Trans/Individual/Life/lucka2.gifSeorang teman terlihat sangat sibuk sekali hari itu, ditangannya terdapat beberapa lembar ijazah, surat lamaran dan beberap dokumen lainnya.

"Mau melamar jadi PNS mas.." celotehnya tanpa memberi kesempatan gw bertanya.

Hari-hari berikutnya, dia mulai membuka buku-buku usang masa kuliahnya dulu, mulai membaca buku-buku psikotes, mempelajari buku-buku yang sebelumnya belum pernah dia sentuh.

"Minggu depan ujiannya mas, tempatnya di GBK. Seharian dari pagi sampai sore.." sahutnya setelah sebelumnya beberapa pertanyaan dari gw menghujamnya.

"Materinya lumayan banyak, jadi harus dicicil dari sekarang.." lanjutnya meneruskan.

Gw hanya tersenyum dan turut berdoa semoga segala usahanya diridhoi Allah dengan meluluskannya menjadi seorang aparat pemerintah.

———-

Dari sekelumit cerita diatas bisa kita lihat bahwa mimpi dan cita-cita seseorang akan menumbuhkan keseriusan dan kesungguhannya berusaha memperjuangkan mimpinya itu.

Begitu dia tahu waktu, tempat dan materi yang akan diujikan maka serta merta dia akan belajar dengan keras dan menjejali dirinya dengan ilmu-ilmu sebagai persiapan dirinya menuju medan perang.

Secara logika, Apakah yang akan dilakukan seseorang bila dia mempunyai cita-cita dan diberi kesempatan untuk menggapainya?

"Mempersiapkan diri" Betul, mempersiapkan diri adalah jawaban yang paling masuk akal dan bisa diterima secara nalar.

Gw yakin semua orang yang mengaku dirinya muslim, pasti mempunyai cita-cita lolos dari hisab (perhitungan) Allah di akhirat kelak dan menjadi penghuni surga.

Pertanyaannya adalah apakah kita sudah siap mejadi penghuni surga? pantaskah kita?

Bila ingat cerita nabi Adam as, Beliau sebelumnya ahli surga dan diturunkan ke bumi hanya karena satu dosa,sekali lagi satu dosa yaitu memakan buah khuldi (selain memang sudah takdir Allah tentunya).

Disisi lain kita yang berlumuran dosa, yang setiap waktu berbuat dosa, selalu berkhianat dan berlaku dzolim kepada Allah dan mahklukNya ingin masuk surga?

Demi cita-cita mulia itu, Sudahkan kita berusaha sekuat tenaga kita untuk menggapainya? mencurahkan segala pikiran kita, memanfaatkan setiap waktu yang tersisa sebelum malaikat Izrail as mendatangi kita.

Adakah seseorang tahu kapan kematian akan menghampirinya? Dengan cara bagaimana maut itu menjemput? Dan dimanakah sang ajal mendatangi? "Wallahu’alamu bishawab" Yups, hanya Allah (Yang Mengenggam Jiwa) kita sajalah yang tahu.

Sudahkan kita mempersiapkan diri kita untuk menyongsong saat itu? Saat dimana pintu tobat sudah ditutup dan penyesalan sudah terlambat, saat sang lidah kelu kala tenggorokan tercekik, saat ruh dipaksa meninggalkan jasad yang sudah ia diami selama berpuluh-puluh tahun.

Sudah siapkah kita.. menghadapi sakaratul maut?

———

Ditulis setelah melihat video2 tentang "sakaratul maut" di youtube. salah satunya ini:

http://www.youtube.com/watch?v=42klb5HjvBk
http://www.youtube.com/watch?v=zyEjp_ptOao

"Allhumma hawwin ‘alaina fii sakaratil maut"


Mudah Sekali Bagi Allah..

October 8, 2009 – 8:20 am
Banyak cara bagi Allah untuk memperingati (memperhatikan hamba-Nya), mulai dari cara halus sampai dengan cara keras, dari yang disadari hambaNya atau yang tidak. Hanya saja (patut disayangkan), hambaNya itu kebanyakan tidak tau, tidak mau tau, tidak sadar, tidak mau sadar akan perhatian Tuhannya itu.

Allah tidak serta merta menegur hambanNya dengan keras tanpa ada peringatan-peringatan dan teguran-teguran kecil sebelumnya. Dan mungkin sampai saat peringatan-peringatan kecil itu tidak dihiraukan bahkan mungkin ditentang hambaNya, barulah teguran yang cukup keras Dia turunkan.

Apakah kita tidak pernah mengadakan survei atau mencari tahu ke negeri-negeri yang Allah telah tegur mereka dengan keras. Lihatlah kehidupan mereka sebelum datangnya teguran dan setelah itu.

Apakah dinegeri itu setelah turunnya teguran, mereka yang takut kepadaNya lebih sedikit dari sebelum datangnya teguran? atau sebaliknya, malah jauh lebih banyak.

Apakah dinegeri itu setelah turunnya teguran, mereka yang bersyukur lebih sedikit dari jumlah mereka sebelum datangnya teguran? atau sebaliknya, malah jauh lebih banyak.

Apakah dinegeri itu setelah turunnya teguran, Mesjid-mesjid terbengkalai dan tidak dimakmurkan? atau sebaliknya, mesjid-mesjid menjadi ramai dan makmur.

"Sesungguhnya bila Allah menghendaki hambanya menjadi baik, maka Dia akan (menimpakan) musibah kepadanya"

Sangat mudah bagi Allah membolak-balikan hati hambaNya, salah satunya melalui teguran keras yang Dia turunkan. Saat teguran keras mendera hambaNya, maka secara manusiawi hambaNya akan trauma dan akan lebih dekat lagi denganNya. Karena Allah lebih tahu sifat hambaNya dibandingkan hambaNya sendiri.

Seperti mudahnya suatu kaum berbuat suatu kebatilan, melanggar perintah-perintahNya, mengerjakan laranganNya, merampas hak-hak orang lain, melalaikan kewajibannya. Maka, begitu mudah juga bagi Allah untuk mencabut kenikmatan mereka dan menghancurkan semua yang mereka banggakan. Bahkan Allah akan mengganti mereka dengan umat baru yang lebih baik.

Sangat mudah juga bagi Allah mengganti umat yang terus-menerus membangkang dengan umat yang lebih baik. Dengan teguran keras, trauma, mereka lebih mendekatkan diri kepadaNya, Allah balikan hati mereka yang sebelumnya jauh dari rahmatNya hingga menjadi hati yang selalu condong (istiqomah) kepadaNya. Sehingga lahirlah satu umat baru yang takut kepadaNya, umat yang lebih baik dari umat sebelumNya walaupun secara fisik mereka tidak berubah.

Allah SWT akan terus memperhatikan hamba-hambaNya dengan berbagai bentuk perhatian. Dengan satu tujuan dan maksud yaitu agar mereka kembali ke jalan dan ridhaNya. Justru mereka yang tidak pernah diperhatikanlah yang seharusnya merasa khawatir dan was-was.

"Apabila Allah menghendaki kebaikan bagi hambanya maka Dia akan menyegerakan hukumannya di dunia, dan bila Allah menghendaki keburukan bagi hambanya maka dia akan menunda (hukumannya) atas dosa-dosanya sehingga Allah akan menyempurnakan hukuman baginya di akhirat kelak. (HR. Al-Imam At-Tirmidzi dari shahabat Anas ibn Malik radhiyallahu ‘anhu)". Wallahu ‘alam bishawab.

————-

Ditulis saat dikantor, beberapa hari setelah gempa 30 Sep 09, Sumbar.
"Semoga Allah menjadikan korban(muslimin/muslimat) seperti meninggalnya para syuhada, dan membalikkan hati kami yang masih hidup agar kembali kepadaNya" -amiin-


Si Budi Kecil..

September 15, 2009 – 8:36 am
".. Anak sekecil itu berkelahi dengan waktu demi satu tujuan yang kerap ganggu tidurmu.."

Sebaris lirik lagu Iwan Fals berjudul Sore tugu Pancoran itu terngiang dalam benak gw saat mata kantuk ini menyaksikan sesosok bocah mungil bergelantungan di bis yang gw tumpangi.

Rasa takut tak terlihat sedikitpun dari wajahnya. Sebaliknya wajah-wajah kami (penumpang) yang dibuat khawatir melihat bocah itu. Senyum polos tanpa beban dia tebarkan kepada kami seraya membagikan sebuah amplop kecil bertuliskan "Mohon sumbangannya untuk biaya sekolah..dst".

Anak ini adalah satu contoh dari sekian juta anak yang menggantungkan hidupnya pada pemberian orang lain. Anak ini adalah salah satu korban ketidak pedulian masyarakat terhadap lingkungan mereka. Anak ini adalah sedikit bukti kegagalan pemerintah memeratakan keadilan di semua sektor dan lapisan masyarakat.

Pernah gw coba membayangkan memposisikan diri seperti anak itu, yang terlintas hanyalah kesengsaraan, kesusahan, ketidak pastian, dan tiadanya harapan yang terus menyeret kedalam kefakiran. Baru membayangkannya saja sudah bertubi-tubi derita yang nantinya gw dapat -walaupun mungkin kenyataannya tidak seperti itu, atau bisa jauh lebih buruk dari itu-.

Dikala anak-anak se-usia mereka minum susu, mereka menyantap debu tiap hari. Dikala anak-anak seumuran mereka makan dengan kenyang, mereka mengganjal perut dengan batu, Ketika anak-anak seumuran mereka sekolah, membeli baju baru, sepatu baru, mainan baru dan semua yang serba baru, mereka mungkin membayangkannya pun tidak.

Mereka tak kenal selimut hangat dikala udara dingin, atau Air Conditioner (AC) kala udara panas, atap ketika hujan atau tempat bernaung ketika sengatan matahari membakar hati. Yang mereka tahu hanya suhu ketidak berpihakan kepada nasib mereka.

Sewaktu Anak-anak lain memeluk ibu mereka dikala senang dan sedih, mengadu kepada ayah mereka dikala mendapat masalah, dan bercerita kepada kakak dan adiknya. Mereka hanya mengolah imajinasi dalam pikiran mereka apa sebenarnya kasih sayang dan cinta itu?

Ke arah manapun kaki melangkah, mereka ada. Ke sudut manapun pandangan dialihkan, mereka ada. Ke manapun anda menghindar, mereka selalu ada laksana bayangan yang selalu rekat dengan tuan-nya.

Inilah realitas diri kita sebenarnya, kenyataan lingkungan masyarakat kita, bukti konkrit negara kita. Fakta yang tak bisa dibantah hanya dengan argumen dan wacana-wacana di TV dan koran. Fakta yang tidak akan terselesaikan hanya dengan waktu satu atau dua bulan saja.

Inilah wajah kita sesungguhnya. Wajahnya mereka yang egois, wajahnya mereka yang tak pernah peduli, wajahnnya mereka yang sombong dan angkuh dengan egois dan ketidak peduliannya itu.

Kapan lagi, dimana lagi, akan kita temukan wajah-wajah pribumi yang ramah dengan lingkungannya, peduli dengan nasib sesamanya. Kapan lagi.. Dimana Lagi..??

 
..Atau mungkin saat mereka bertemu dengan anda?..

———–

Ditulis saat pulang kantor,naik kopaja,dan ada anak usia 5 tahunan "ngamen".. (waktu itu sekitar jam 10 malam)
 


Andai lebih lama, Andai masih baru, Andai semuanya..

May 22, 2009 – 11:13 am
Mungkin ada yang sudah melihat sebuah reality show pada salah satu stasiun TV di Indonesia. Reality show ini menampilkan dimana ada seseorang yang berpura-pura meminta tolong kepada orang lain yang dia temui dijalan, warung, rumah dll.

Ditemani kamera tersembunyi dia berkeliling mencari orang-orang yang bersedia menolong kesusahannya. Tidak gampang mencari orang yang benar-benar mau menolong, bahkan setelah lebih dari 20 orang untuk dimintai tolong tetap saja belum ada yang mau menolong, walaupun ujung-ujungnya ada juga orang yang mau menolong.

Salah satu hikmah dari acara tersebut(dibalik ada rekayasa atau tidak), dapat kita perhatikan bahwasanya tidak semua orang dianugerahi rahmat oleh Allah untuk menolong sesama dan tidak semua orang Dia gerakkan hatinya untuk menolong.

Ada sebuah kisah dari salah satu sahabat Rasul ketika sahabat itu meninggal. Setelah Rasul menguburkannya Beliau menemui istri sahabat tersebut dan menanyakan apakah ada wasiat yang ditinggalkan.

Istri sahabat tersebut menjawab bahwa memang ada wasiat yang ditinggalkan suaminya. Tapi dia sendiri tidak mengerti maksud dari wasiat itu. Sebelum meninggal (dalam sakaratul maut), suaminya mengucapkan tiga buah kata yaitu :

- andai lebih lama..
- andai masih baru..
- andai semuanya
.
.

Rasul tersenyum dan menjelaskan bahwa suaminya adalah salah seorang sahabat yang di ridhoi Allah SWT. Lalu Beliau menjelaskan satu-satu makna dari kata-kata suaminya itu.  

Andai lebih lama..
Dulu sebelum sahabat itu meninggal, pernah suatu waktu ketika dia akan melaksanakan sholat subuh. Dijalan dia bertemu dengan seorang kakek tua yang apabila kakek itu terjatuh sudah pasti tidak bisa bangun sendiri, dan kebetulan tidak ada orang disekitar situ hingga tidak akan ada yang menolongnya. Dengan penuh kesabaran dia menolong kakek itu dan menjaganya sampai tiba di mesjid, walaupun konsekuensinya adalah dia terlambat sholat berjamaah di mesjid.

Ternyata Allah ridha dengan perbuatannya dan saat sakaratul maut Allah perlihatkan besarnya balasan pahala yang diperolehnya, sehingga sahabat itu mengucapkan "andai lebih lama..", maksudnya andai saja jarak ke mesjid masih jauh sehingga dia bisa menjaga kakek itu lebih lama dan balasan yang diperolehnya-pun lebih besar.

Andai masih baru..
Suatu malam yang sangat dingin sekali, sahabat itu melihat ada orangtua yang mengigil kedinginan saat dia akan pergi ke mesjid. Dia sendiri tidak terlalu dingin karena jaket yang dia pakai. Karena tidak tega melihat orang tua tersebut dengan ikhlas dia melepaskan jaketnya dan dipakaikan pada orangtua yang kedinginan tersebut. walaupun akhirnya dia sendiri yang akhirnya kedinginan.

Allah-pun ridho akan perbuatan sahabat tersebut dan saat sakaratul maut Allah perlihatkan besarnya balasan pahala yang diperolehnya, sehingga sahabat itu mengucapkan "andai masih baru..", maksudnya andai saja jaket yang dia berikan itu jaket yang masih baru tentu saja balasan yang dia dapatkan lebih dari ini.

Andai semuanya..

Selepas bekerja dan sangat lapar sekali sahabat itu pulang kerumahnya dan didapatinya sebuah roti panas yang dihidangkan oleh istrinya. Saat akan menyantapnya tiba-tiba terdengar ketukan dari luar rumah. Setelah dilihat didapatilah seorang musafir yang meminta makan. Dengan ikhlas dia membagi makanan yang hanya cukup untuk satu orang itu.

Perbuatan dia ternyata diridhoi oleh Allah dan saat sakaratul maut Allah perlihatkan besarnya balasan pahala yang diperolehnya, sehingga sahabat itu mengucapkan "andai semuanya..", maksudnya andai dia memberikan makanan itu semuanya tentu saja pahala yang dia peroleh akan lebih besar dari sekarang.

Begitulah Rasul menuturkan maksud dari ucapan sahabat tersebut sesaat sebelum dia meninggal kepada istrinya. Betapa besarnya balasan dari Allah bila kita ikhlas mau menolong, mau memberi dan mau menyisihkan waktu sejenak untuk membantu orang lain.

Berbahagialah kita yang senantiasa bisa menolong, bersedekah dengan apapun, dengan cara bagaimanapun dan kepada siapapun yang kita temui dimanapun. Berbahagia karena Allah telah memilih kita menjadi perpanjangan tangan-Nya dalam menyampaikan rizki-Nya. Subhanallah..

—————————-

Ditulis setelah mendengar khutbah jumat di German Center-BSD.


Harapan..

May 6, 2009 – 9:58 am

Mataku terpejam dan terkadang terbuka redup menyambut semilir angin yang menerpa wajahku. Belaian angin sepoi-sepoi tak urung membuatku terbuai untuk terus memejamkan mata sampai kurasa nyaman untuk merebahkan diri.

Tapi niat itu ku urungkan, dari kejauhan suara panggilan itu merambat hingga sampai ke telingaku yang selalu tak mendengar ini. Ragaku menolak tapi hatiku laksana roda raksasa yang kerap jadi momok menyebalkan bagi rasa malasku.

Ku dorong keinginan hati hingga menjadi ujung tombak yang yang disegani benalu-benalu jiwa. Dorongan yang menyebabkan kedua tangan dan kakiku ikut tergerak bersimpatik. Kebulatan tekad-pun terbentuk dari konspirasi keduanya.

Butir demi butir tetes air suci hinggap dalam pori-poriku. Mengajak penghuninya agar segera meninggalkan rumah mereka yang sudah mulai kusam dan rusak itu. Tetesan demi tetesan terus mengalir menebarkan kesegaran dalam tubuhku. Satu demi satu kotoran terbersihkan berganti kesucian yang sudah lama didambakan.

Kebesaran menggema saat kuhadapkan wajahku kearah-Nya. Sedikit demi sedikit ketundukan mulai menelusuri aliran darahku. Bakteri bakteri kebatilan seakan berlarian, saat darah takwa memburu keberadaan mereka.

Kuhempaskan kesombonganku kedalam sajadah iman dihadapanku. Pujian kepadaNya menjalar dipikiranku yang liar. Pelan namun pasti kelembutan-Nya merubah kebuntuan menjadi sebuah harapan baru dihatiku, mendengung di ragaku dan  menggetarkan jiwaku. Tak terasa tetes air keikhlasan membasahi kedua mataku.  

"..Aku bukan siapa-siapa di hadapan Mu.."

———————-

Ditulis saat sendiri dikantor dengan segala kebuntuan.