oeoe-op

Andai lebih lama, Andai masih baru, Andai semuanya..

May 22, 2009 – 11:13 am
Mungkin ada yang sudah melihat sebuah reality show pada salah satu stasiun TV di Indonesia. Reality show ini menampilkan dimana ada seseorang yang berpura-pura meminta tolong kepada orang lain yang dia temui dijalan, warung, rumah dll.

Ditemani kamera tersembunyi dia berkeliling mencari orang-orang yang bersedia menolong kesusahannya. Tidak gampang mencari orang yang benar-benar mau menolong, bahkan setelah lebih dari 20 orang untuk dimintai tolong tetap saja belum ada yang mau menolong, walaupun ujung-ujungnya ada juga orang yang mau menolong.

Salah satu hikmah dari acara tersebut(dibalik ada rekayasa atau tidak), dapat kita perhatikan bahwasanya tidak semua orang dianugerahi rahmat oleh Allah untuk menolong sesama dan tidak semua orang Dia gerakkan hatinya untuk menolong.

Ada sebuah kisah dari salah satu sahabat Rasul ketika sahabat itu meninggal. Setelah Rasul menguburkannya Beliau menemui istri sahabat tersebut dan menanyakan apakah ada wasiat yang ditinggalkan.

Istri sahabat tersebut menjawab bahwa memang ada wasiat yang ditinggalkan suaminya. Tapi dia sendiri tidak mengerti maksud dari wasiat itu. Sebelum meninggal (dalam sakaratul maut), suaminya mengucapkan tiga buah kata yaitu :

- andai lebih lama..
- andai masih baru..
- andai semuanya
.
.

Rasul tersenyum dan menjelaskan bahwa suaminya adalah salah seorang sahabat yang di ridhoi Allah SWT. Lalu Beliau menjelaskan satu-satu makna dari kata-kata suaminya itu.  

Andai lebih lama..
Dulu sebelum sahabat itu meninggal, pernah suatu waktu ketika dia akan melaksanakan sholat subuh. Dijalan dia bertemu dengan seorang kakek tua yang apabila kakek itu terjatuh sudah pasti tidak bisa bangun sendiri, dan kebetulan tidak ada orang disekitar situ hingga tidak akan ada yang menolongnya. Dengan penuh kesabaran dia menolong kakek itu dan menjaganya sampai tiba di mesjid, walaupun konsekuensinya adalah dia terlambat sholat berjamaah di mesjid.

Ternyata Allah ridha dengan perbuatannya dan saat sakaratul maut Allah perlihatkan besarnya balasan pahala yang diperolehnya, sehingga sahabat itu mengucapkan "andai lebih lama..", maksudnya andai saja jarak ke mesjid masih jauh sehingga dia bisa menjaga kakek itu lebih lama dan balasan yang diperolehnya-pun lebih besar.

Andai masih baru..
Suatu malam yang sangat dingin sekali, sahabat itu melihat ada orangtua yang mengigil kedinginan saat dia akan pergi ke mesjid. Dia sendiri tidak terlalu dingin karena jaket yang dia pakai. Karena tidak tega melihat orang tua tersebut dengan ikhlas dia melepaskan jaketnya dan dipakaikan pada orangtua yang kedinginan tersebut. walaupun akhirnya dia sendiri yang akhirnya kedinginan.

Allah-pun ridho akan perbuatan sahabat tersebut dan saat sakaratul maut Allah perlihatkan besarnya balasan pahala yang diperolehnya, sehingga sahabat itu mengucapkan "andai masih baru..", maksudnya andai saja jaket yang dia berikan itu jaket yang masih baru tentu saja balasan yang dia dapatkan lebih dari ini.

Andai semuanya..

Selepas bekerja dan sangat lapar sekali sahabat itu pulang kerumahnya dan didapatinya sebuah roti panas yang dihidangkan oleh istrinya. Saat akan menyantapnya tiba-tiba terdengar ketukan dari luar rumah. Setelah dilihat didapatilah seorang musafir yang meminta makan. Dengan ikhlas dia membagi makanan yang hanya cukup untuk satu orang itu.

Perbuatan dia ternyata diridhoi oleh Allah dan saat sakaratul maut Allah perlihatkan besarnya balasan pahala yang diperolehnya, sehingga sahabat itu mengucapkan "andai semuanya..", maksudnya andai dia memberikan makanan itu semuanya tentu saja pahala yang dia peroleh akan lebih besar dari sekarang.

Begitulah Rasul menuturkan maksud dari ucapan sahabat tersebut sesaat sebelum dia meninggal kepada istrinya. Betapa besarnya balasan dari Allah bila kita ikhlas mau menolong, mau memberi dan mau menyisihkan waktu sejenak untuk membantu orang lain.

Berbahagialah kita yang senantiasa bisa menolong, bersedekah dengan apapun, dengan cara bagaimanapun dan kepada siapapun yang kita temui dimanapun. Berbahagia karena Allah telah memilih kita menjadi perpanjangan tangan-Nya dalam menyampaikan rizki-Nya. Subhanallah..

—————————-

Ditulis setelah mendengar khutbah jumat di German Center-BSD.


Harapan..

May 6, 2009 – 9:58 am

Mataku terpejam dan terkadang terbuka redup menyambut semilir angin yang menerpa wajahku. Belaian angin sepoi-sepoi tak urung membuatku terbuai untuk terus memejamkan mata sampai kurasa nyaman untuk merebahkan diri.

Tapi niat itu ku urungkan, dari kejauhan suara panggilan itu merambat hingga sampai ke telingaku yang selalu tak mendengar ini. Ragaku menolak tapi hatiku laksana roda raksasa yang kerap jadi momok menyebalkan bagi rasa malasku.

Ku dorong keinginan hati hingga menjadi ujung tombak yang yang disegani benalu-benalu jiwa. Dorongan yang menyebabkan kedua tangan dan kakiku ikut tergerak bersimpatik. Kebulatan tekad-pun terbentuk dari konspirasi keduanya.

Butir demi butir tetes air suci hinggap dalam pori-poriku. Mengajak penghuninya agar segera meninggalkan rumah mereka yang sudah mulai kusam dan rusak itu. Tetesan demi tetesan terus mengalir menebarkan kesegaran dalam tubuhku. Satu demi satu kotoran terbersihkan berganti kesucian yang sudah lama didambakan.

Kebesaran menggema saat kuhadapkan wajahku kearah-Nya. Sedikit demi sedikit ketundukan mulai menelusuri aliran darahku. Bakteri bakteri kebatilan seakan berlarian, saat darah takwa memburu keberadaan mereka.

Kuhempaskan kesombonganku kedalam sajadah iman dihadapanku. Pujian kepadaNya menjalar dipikiranku yang liar. Pelan namun pasti kelembutan-Nya merubah kebuntuan menjadi sebuah harapan baru dihatiku, mendengung di ragaku dan  menggetarkan jiwaku. Tak terasa tetes air keikhlasan membasahi kedua mataku.  

"..Aku bukan siapa-siapa di hadapan Mu.."

———————-

Ditulis saat sendiri dikantor dengan segala kebuntuan.


Inspirasi..

April 24, 2009 – 10:01 am
Mungkin ada yang udah pernah baca buku karya Tauhid Nur Azhar yang berjudul "Pulsa dan Komik Jepang" terbitan salah satu penerbit buku di Indonesia?

Buku berukuran sedang ini berisi pengalaman-pengalaman pribadi penulisnya yang ia ceritakan dan ia kaitkan dengan hikmah dibalik semua pengalamannya itu. Buku yang menarik menurut gw, ringan tapi banyak pelajaran yang bisa gw peroleh dari membaca buku itu.

Kebiasaan gw setiap bulan harus ada buku yang gw beli untuk sekedar menemani dalam  perjalanan Bogor-UKI pulang-pergi setiap minggunya. Untuk bulan ini, karena sudah "jatuh cinta" dengan penerbit yang sama seperti buku sebelumnya, maka gw cari lagi buku terbitan mereka.

Alhamdulillah, cukup lama mencari akhirnya gw menemukan sebuah buku karya A.Puyan "Blitzer" yang berjudul "Snack For The Soul (Suplemen Jiwa)".

Sebuah buku motivasi yang cukup menarik karena setiap berganti tema selalu diawali dengan sebuah analogi berbentuk cerita sehingga tidak bosan. Bahasanya yang sederhana dan mudah dicerna pun merupakan nilai lebih dari buku ini (gw menilainya subyektif ya.. :D ).

Analogi-analoginya yang simpel dan mudah dicerna membuat gw nyaman berlama-lama dengan buku ini. Banyak sekali cerita menarik yang bermaksud memotivasi dan menjadi bahan renungan untuk pembacanya, termasuk gw.

Naah ada sebuah cerita menarik dari buku ini dilihat dari sisi cerita maupun inspirasi yang disampaikan penulisnya. Sebenarnya gw bingung juga soalnya semua cerita yang dibuat sangat menarik.

Untuk sekedar sharing dan mudah2an dibolehkan oleh penulis buku ini, gw mo sedikit ngasih bocoran cerita yang gw maksud diatas. Tapi tidak sama persis, gw salin dari yang tersisa di ingatan gw aja ya. :D

Salah satu inspirasi gw dalam buku ini adalah sebuah cerita berjudul "Juara Sejati".

Dikisahkan ada seorang anak yang mengikuti kejuaraan balapan mobil buatan sendiri. Beberapa anak masuk kedalam babak Final, satu dari tiga anak itu adalah bocah bernama Mark.

Walaupun mobil yang dia buat tidak istimewa dan sederhana, tapi mobil yang dia buat masuk final bersama dengan mobil-mobil lain yang jauh lebih bagus dan indah darinya.

Singkat cerita, dimulailah balapan itu. Setiap peserta bersiap-siap dengan mobilnya masing-masing. Tiba-tiba Mark mengangkat tanngan tanda interupsi sebentar untuk berdoa. Panitia mengizikannya berdoa, dan setelah komat-kamit sebentar Mark-pun siap untuk berlomba.

Selang berapa lama perlombaan berakhir dan Kejuaraan itu sudah mendapatkan seorang juara yang tak lain adalah si bocah yang bernama Mark tadi. Piala di serahkan, sesaat sebelum  menyerahkan hadiah salah seorang panitia berbisik kepada mark.

"Selamat nak, doamu supaya memenangkan pertandingan dikabulkan.."

Mark hanya tersenyum dan membalas dengan santun.

"Aku tidak meminta untuk menang, aku hanya meminta supaya kalo aku kalah dalam pertandingan ini-aku tidak menangis.."

 
Lumayan inspiratif kan? jadi apa inspirasi yang bisa kita ambil dari cerita diatas? Silahkan ke toko-toko buku terdekat dan beli sendiri bukunya :D

".. Ya Allah bimbinglah hamba dalam menang dan kalah.."
 
———————————–
 
Ditulis setelah ingat cerita ini di buku "Snack for the Soul" waktu membacanya di Bis Bogor-UKI ..(waktunya lupa :P )

Mereka itu titipan..

April 7, 2009 – 11:24 am
Alangkah bersyukurnya orang-orang yang dianugerahi kemudahan untuk menikah oleh Allah SWT. Diluar apakah pernikahan itu bertujuan "mempercepat" pernikahan atau "tergesa-gesa" dalam melangsungkan pernikahan.

Menikah adalah sunnah Nabi yang mungkin menjadi dambaan umat Islam manapun. Karena bernilai ibadah seuah pasti niat menikah-pun tentunya hanya karena Allah semata. Menikah merupakan pergantian status, menghalalkan yang tadinya dilarang sebelum menikah, melestarikan keturunan dan mulainya kehidupan baru untuk kedua mempelai.

Harapan dari semua yang akan, sedang ataupun sudah menjalani pernikahan adalah agar keluarga yang mereka bangun akan menjadi keluarga yang sakinah, warohmah dan mawaddah. Sebuah konsep standar bagi keluarga muslim dimanapun.

Tidak mudah menyatukan dua sifat dari dua manusia yang berbeda jenis. Jarang sekali ditemukan persamaan, yang ada malah beragam perbedaan yang abadi. Tapi justru disitulah kebesaran Allah terlihat karena perbedaan itu muncul tidak lain untuk melengkapi antara satu sama lain.

Tidak ada sanggahan kalau keluarga Rasul adalah contoh nyata yang harus digugu oleh setiap keluarga muslim, Dalam ketaatan kepada Allah, Selain Rasulallah keluarga Nabi Ibrahim-pun pantas untuk kita jadikan referensi.

Nabi Ibrahim adalah contoh kepala keluarga yang selalu mengedepankan perintah Allah daripada ego Beliau sendiri. Seorang anak yang kelahirannya Beliau tunggu selama bertahun-tahun dengan ikhlas beliau kurbankan karena perintah Allah yang datang lewat mimpinya.

Seorang Nabi Ismail pun merupakan contoh anak sholeh yang taat kepada orang tuanya, tanpa berpikir panjang beliau menyambut permintaan ayah-nya itu dengan ikhlas.

"..Kalo memang Allah memerintahkan untuk menyembelihku, lakukanlah.."

Sosok istri yang sholehah juga tergambar dalam sosok Siti Hajar, Ibunda Nabi Ismail. Beliau pun ikhlas anak satu-satunya disembelih atas perintah Allah.

Subhanallah.. Sungguh potret keluarga yang seharusnya menjadi contoh dan panutan bagi keluarga-keluarga muslim. bagaimana kemampuan mereka untuk mengenyampingkan kepentingan pribadi dan selalu mengharap ridha Allah semata.

Kalo boleh membandingkan dengan perilaku keluarga muslim zaman sekarang rasanya seperti "punduk merindukan bulan" untuk dapat meniru keluarga Nabi Ibrahim. memang tidak sedikit juga keluarga yang berusaha untuk selalu dalam ridha-Nya, tapi sepertinya lebih banyak yang jauh dari ridha-Nya.

Jarang sekali orang tua mau mengajak keluarganya untuk selalu mendekatkan diri dengan Rabb-nya. Sedikit sekali mereka memilih untuk liburan ke tempat ibadah atau bertamasya mengenal Allah. Mereka lebiha senang mengajak keluarganya ke Mall, taman hiburan dan sebagainya.

Mereka menyekolahkan anak-anak mereka disekolah-sekolah bergengsi yg jauh sekali dari nilai-nilai Islam, padahal akidah buah hati mereka dipertaruhkan. Bahkan mungkin mereka akan lebih merasa bangga bila anaknya lulus dengan nilai yang baik dibandingkan bila anaknya bisa membaca AlQuran. Mereka akan "cuek" bila anaknya tidak mengerjakan sholat tapi akan marah bila anaknya tidak mengerjakan PR.

Pesantren dan lembaga pendidikan Islami tidak akan mereka lirik sama sekali, karena lembaga-lembaga pendidikan islam ini sudah difitnah oleh antek-antek sekuler dan liberal, sehingga tergambarlah wajah pesantren seperti sekarang ini. Masa depan suram, terbelakang, hanya untuk orang-orang bermasalah, dan sarang teroris -Naudzubillah.

Padahal bila para orangtua itu mau riset sedikit saja, di tanah air ini banyak sekali orang-orang terpelajar dan bahkan menjadi tokoh nasional negeri ini yang lahir dari dunia pesantren. Sebaliknya orang-orang yang katanya terpelajar dan mengenyam pendidikan dinegara-negara sekuler hanya menjadi penghianat dan menyengsarakan rakyat dengan korupsi-korupsinya.
 
Akibatnya, hasil dari mejauhkan keturunan mereka dari agama Allah adalah kerugian besar bagi keluarga mereka. Tidak jarang seorang anak membangkang perintah orang tuanya walaupun perintah itu untuk kebaikan dirinya. Bahkan setelah tua dan pikun mereka tak segan-segan mengirimkan orang tua mereka ke panti jompo atau bahkan "membuang" mereka. Naudzubillah.

Apakah kecintaan orangtua kepada anak harus mengalahkan kecintaan mereka kepada Allah??

Apakah mereka sudah siap mempertanggung jawabkan "titipan" Allah itu kelak?

Wallahu’alam
——————-

ditulis saat ga sengaja melihat foto-foto pernikahan sahabat-sahabat dekat.. :P


Sukses itu prosesnya..

April 2, 2009 – 11:23 am

"Lo mah enak, udah kerja.. lihat gw, buat makan aja susah"

"Lo mah enak ga usah mikirin apa-apa lagi, rumah udah ada, mobil ada.. coba tengok gw?"

"Waah enak lo mah udah sukses, semua ada.. gw dari dulu gini-gini aja.."

Hmmh.. familiar dengan kalimat-kalimat diatas??
Tak jarang gw dengar kalimat-kalimat itu dari orang-orang sekitar gw, dari obrolan orang-orang yang kebetulan gw terlibat disitu, dimanapun gw berada keluhan semacam itu tak jarang gw denger. Atau anda sendiri pernah berkata seperti itu?

Gw pribadi pernah dan lumayan agak sering berpikir seperti itu, apalagi kalo ketemu teman lama dan gw lihat dia terbilang sukses bin berhasil dalam hidupnya. Sontak saja kalimat itu keluar walopun hanya dalam hati saja.

Dari kacamata gw, kalimat-kalimat itu lebih tepat diucapkan oleh orang-orang yang terlalu pesimis dan agak sedikit skeptis(cieee.. istilahnya) dalam hidupnya. Dia hanya melihat keberhasilan seseorang dari apa yang sudah orang itu peroleh. Dari harta yang dimilikinya, dari karir yang dicapainya, dll. Dia tidak melihat pelajaran yang lebih penting dari keberhasilan itu.

Apa yang lebih penting dibalik itu??
Mungkin sebagian dari anda sudah tahu jawabanya, Yups.. seperti apa yang sering disampaikan oleh motivator, temen curhat -halah- yang terpenting adalah "Proses"-nya.

Melihat temen sukses tanpa memperhatikan perjuangan dia mencapai kesuksesannya itu, ingin seperti mereka yang berhasil tapi tidak mau meniru kerja keras mereka. Yang diinginkan selalu  instan dan cepat saja. Padahal logikanya sesuatu yang diperoleh dengan cepat itu, akan hilang dengan cepat juga.

Seorang teman pernah menulis, seandainya sukses itu tidak membutuhkan perjuangan yang keras mungkin dikala orang lain kerja keras banting tulang, mending kita enak-enakan saja dirumah, tidur, makan, nonton TV dan memanjakan diri.

Lain lagi dengan teman yang lain, dia senang sekali bila mendapat masalah dalam pekerjaannya. Selain karena ada problem berarti ada uang, alasan utamanya adalah dia merasa senang karena Allah memperhatikan hidupnya. Bayangkan kalo hidup kita "lurus-lurus" aja.

Yang lebih parah lagi adalah setelah gelap mata melihat keberhasilan orang lain tanpa melihat proses dibalik layarnya, tak jarang yang dilakukan orang-orang adalah malah berandai-andai, ber-jikalau, ber-seumpamanya dll.

Akhirnya lupa akan apa yang seharusnya dia lakukan yaitu berikhtiar/bekerja semaksimal mungkin dan menyerahkan hasilnya kepada Allah. Yang ada di benaknya hanyalah lamunan, membayangkan keberhasilan dia kelak dan hayalan-hayalan lainnya.

Akhirnya sampai disuatu masa dia sudah tidak bisa melamun lagi dan keberhasilanpun tidak pula menghampiri dirinya. Akibatnya apa?

Akibat yang paling sering ditemui adalah menyalahkan lingkungan disekitarnya, meyalahkan orang lain, orang tua dan keluarganya, menyalahkan keadaan bahkan tidak sedikit yang lantas menyalahkan Allah SWT. Naudzubillah.

Kenapa harus kerja keras? toh rezeki itu udah ada yang ngatur dan gak bakal ketuker sama kambing. Atau kenapa harus kerja keras? orang tua pun masih banyak hartanya dan gak bakal habis sampai beberapa turunan kedepan.

Justru jangan titik akhirnya yang kita lihat, jangan lihat apa yang Allah akan berikan (karena kalo Allah berjanji pasti tidak akan ingkar) tapi pahamilah apa yang seharusnya kita lakukan untuk mencapai janji Allah itu.

Jangan melihat harta orangtua kita yang mungkin gak bakalan abis, tapi perhatikanlah bagaimana kerja keras orangtua kita untuk mengumpulkan harta tersebut.

Ayo sebelum terlambat, sebelum malaikat Izrail a.s menjemput, kita luruskan niat dan selalu berprasangka baik kepada Allah SWT. Mulailah melakukan perubahan, jangan jadi pemalas apalagi anda muslim/muslimah.

Hmmh..Bahkan Allah sendiri berfirman bahwa Dia tidak akan merubah suatu kaum kecuali mereka sendiri mau merubahnya. Islam-pun sangat keras terhadap para pemalas sampai-sampai gw pernah  mendengar bahwa bumi itu tidak rela diinjak oleh orang yang setelah waktu dhuha masih terlelap dalam tidurnya.

seperti apa yang sering dinasehatkan oleh AA Gym. Jika ingin melakukan perbaikan maka:

- Mulailah dari diri sendiri
- Mulailah dari hal yang kecil-kecil
- Mulailah dari sekarang

————————–

Ditulis setelah mendengar keluhan-keluhan "orang terdekat" tentang kerjaannya. :P


Males-malesan..

March 13, 2009 – 3:33 am
http://1.bp.blogspot.com/_yyNa1bfqe10/SIGAFVzgxJI/AAAAAAAAABg/UJvrF6Wg93c/s320/bersyukur.jpgKebiasaan jelek gw dateng lagi, kena syndrom "tiba-tiba males" kerja setelah sebelumnya melakukan kebiasaan jelek yang lain yaitu "tidur lagi setelah sholat subuh". Please.. dont try this at home.
 
Hmmh.. Setengah malas gw berangkat juga ke kantor, matahari udah mulai naik dan terasa sangat terik sekali hari itu. gak kerasa keringat udah mengalir dari kepala dan membasahi leher gw. Tatapan ibu-ibu yang sedang "kongkow-kongkow" didepan rumah membuat sedikit grogi yang berakibat semakin derasnya keringat gw. Fiiuuuhh…

Langkah kaki malas gw sempat terhenti ketika melewati jalan yang lumayan kecil. Gw terhalang oleh seorang ibu penjual alat-alat keperluan rumah tangga, seperti sapu lidi, sapu lantai, kain pel,ember,dll.

Cukup lama juga gw tertahan disitu, karena ibu itu menjajakan barang dagangannya ke setiap rumah yang ada di kanan kiri jalan. Dengan barang dagangan sebanyak itu susah juga untuk bisa lewat karena nyaris tidak ada celah untuk bisa dilewati.

Diam-diam mata gw memperhatikan ibu itu. Umurnya sudah tidak muda lagi, sekitar 40-50 tahun. Gw perhatikan cara dia berjalan dengan membawa beban yang mungkin dua kali besar tubuhnya, langkahnya gontai tapi seperti ada sesuatu yang menyangganya hingga tidak sampai jatuh. Mungkin semangatnya.

Yang paling menarik perhatian gw adalah raut wajahnya yang sudah mulai menua itu sekalipun tidak memperlihatkan keluh kesah. Bibirnya selalu tersenyum saat menjajakan dagangannya. walaupun tidak semua orang membalas senyumnya dan membeli dagangannya, bahkan mungkin tidak ada pembeli saat itu.

Tidak berapa lama akhirnya gw bisa lewat juga setelah ibu tadi berbelok ke sebuah gang disisi jalan. Langkah kaki gw percepat lagi karena gw enggak mau telat lagi, sudah beberapa hari ini gw selalu telat masuk kantor.

Singkat cerita, gw udah melaju bersama kopaja menuju kantor. Kebetulan penumpang tidak terlalu penuh jadi gw bisa duduk ditempat favorit gw dibangku paling belakang.

Disebelah gw sudah ada seorang nenek dan seorang pemuda berwajah ramah sedang asyik mengobrol. Gw enggak tahu apa yang mereka perbincangkan, tapi lagi-lagi mata gw diam-diam memperhatikan nenek disebelah gw itu.

Nenek ini (maaf) hanya melihat dengan sebelah mata, mata yang satunya sudah tidak bisa melihat, pakainnya sangat sederhana, didepannya terlihat bungkusan peris seperti yang gw lihat pada ibu penjual alat-alat rumah tangga tadi. Gw pun berpikir kalo pekerjaan nenek ini mungkin sama dengan ibu tadi.

Takjub gw melihat nenek ini, tak sungkan dia menyapa gw dengan senyumnya yang khas nenek-nenek. Gw dan dia memang tidak sempat mengobrol, tapi ada "keharuan" yang menjalar di hati setelah membalas sapaannya. Diapun hanya tersenyum dan sesekali melirik gw dengan men-anggukan kepalanya.

Hmmh.. Gw tertegun menyaksikan dua peristiwa yang gw alami ini. Banyak makna yang bisa gw ambil. Gw kagum kepada ibu dan nenek tadi, perjuangan mereka menjalani hidup, semangat mereka menjemput rezeki, ketulusan dalam senyumnya. Hmmh.. hati gw terpukul.

Sungguh gw adalah mahkluk yang tidak pandai bersyukur, apalagi kalo dibandingkan dengan mereka gw jauh lebih beruntung. Badan yang sehat, pekerjaan yang memadai, dan kemudahan-kemudahan lainnya yang Allah turunkan.

Tapi apa yang gw lakukan, bukannya bersyukur dan lebih semangat bekerja dan beribadah, gw malah bermalas-malasan dan selalu mengeluh. Berbagai prasangka tak jarang gw tujukan kepadaNya karena hal-hal sepele.

"..Dan nikmat Tuhanmu yang mana lagi yang akan kau dustakan.."

Ya.. terlalu banyak nikmatNya yang gw dustakan. terlalu banyak janji yang selalu gw ingkari, terlalu banyak amanah yang sudah gw khianati, terlalu banyak ya Allah, tapi ampunanMu, rahmatMu, kasih sayangMu jauh lebih luas.. Ampuni hamba ya Allah.

————————

Ditulis setelah bertemu dengan ibu dan nenek penjual barang "kelontong", saat malas-malasan berangkat kerja..
 


Belajarlah kepada Lebah..

January 29, 2009 – 10:26 am
 
Jumat minggu kemarin gw sholat jumat di Mesjid Departemen Keuangan Jakarta, karena kebetulan ada kerjaan yang harus gw selesaikan disana.

Alhamdulillah jam 11-an gw dan seorang temen gw sudah bisa keluar dan sesegera mungkin menuju mesjid terdekat. Belum terlalu rame dimesjid, maklumlah ciri-ciri jamaah mesjid Indonesia (yang gw tahu) jamaahnya jarang sekali yang menyegerakan ke mesjid.

Selesai wudhu, gw masuk kedalam mesjid dan mencari tempat yang masih kosong. Karena sebagian tempatnya masih kosong jadi tidak terlalu susah mencari tempat yang "PW" atau "Posisi Wenak".

Beberapa lembar buletin mingguan Jumat gak lupa gw ambil sebelum masuk kedalam mesjid tadi. setelah sholat sunnah dan sambil menunggu khotib naik mimbar, gw baca buletin-buletin tadi satu persatu.

Seperti yang telah gw duga sebelumnya, buletin- buletin tersebut rata-rata berisi tentang penderitaan saudara-saudara gw di Palestin, kekejaman zionis(laknat) israel dan sekutunya serta ketidak peduliaan dunia akan tragedi itu.

Laksana gayung bersambut, isi dari khutbah yang disampaikan khotib-pun tak jauh dari tema "Penderitaan di Gaza". Memang untuk orang muslim sendiri (bukan mereka yang munafik) tentu tidak akan bosan membicarakan Palestina sebelum negeri itu benar-benar bebas dari penjajahan Israel dan sekutunya.

Ada beberapa pokok isi khutbah yang gw tangkap dari sholat jumat kemarin. salah satunyaadalah Khairunnaas atau menjadi manusia(muslim) yang baik (dimata Allah tentunya).

Menurut apa yang disampaikan khotib ada beberapa ciri manusia(muslim) yang baik(dimata Allah) itu yaitu:

Pertama, Dia mengerti agama(Islam). zaman sekarang sudah jadi rahasia umum kalo orang memperlakukan agama hanya sebagai simbol saja tanpa mau belajar lebih dalam dari agamanya(islam).

Kedua, Mengerti dan memahami AlQuran. Ketiga, Bertawakal kepada Allah SWT. Keempat, Berakhlak baik.

Isi khutbah yang lain yang gw tangkap adalah pelajaran tentang lebah. Ini berkaitan dengan umat islam yang sekarang ini jauh sekali dari yang namanya "Persatuan".

Bila kita perhatikan ada beberapa ciri lebah yang seharusnya menjadi gambaran umat islam dan ditiru untuk dipraktekan dalam kehidupan sehari-hari nantinya.

pertama, lebah hanya memakan makanan yang baik-baik saja. Bahkan dalam pencarian makanan tersebut lebah malah membantu penyerbukan bunga yang dihinggapinya.

Kedua, Lebah menghasilkan sesuatu yang sangat baik dan sangat bermanfaat bagi makhluk lain yaitu madu.

Ketiga, Lebah selalu hidup berkoloni/berjamaah, sehingga persatuannya begitu kuat.

Keempat, Lebah tidak akan menyengat bila tidak diganggu. Bila kita ganggu lebah satu saja, maka bersiap-siaplah menerima sengatan dari lebah-lebah yang lain.

Begitulah seharusnya umat islam, bersatu membela saudara-saudaranya yang di dzolimi, bukan malah menyalahkan satu sama lain yang berimbas kepada cerai berainya ukhuwah. Wallahu ‘alam.


Song For Gaza.. We Will Not Go Down..

January 16, 2009 – 9:22 am

Terlalu egois rasanya kalo harus posting keluhan, cerita lucu, atau cerita jorok saat ini. Sementara di Palestina sana saudara-saudara se-akidah gw sedang mengalami tragedi kemanusiaan.

Terserah Orang mau bilang apa saja tentang perang itu, mo dibilang perang perebutan tanah, perang Kepentingan atau perang apa saja. Yang gw tau, yang gw liat dan gw saksikan adalah bukan perang tapi PEMBANTAIAN dan kemunduran Peradaban.

Doa selalu gw panjatkan setiap harinya untuk mereka di Palestina, harta tak lupa gw sisihkan untuk (setidaknya) membantu mereka dan gw gak akan pernah putus harapan atas pertolongan Allah kepada mereka.

Miris rasanya hati ini, kala mereka berteriak, "Mana kalian bangsa Arab.. mana kalian orang Islam..".

Yang lebih membuat hati tersayat adalah ketika mereka berkata dengan pasrah, "..Kami tidak butuh bangsa Arab.. biarlah kami syahid oleh peluru-peluru zonis.."

Gw cuma bisa menahan haru, geram, kesal, dan perasaan lain yang bercampur aduk dalam kemarahan. Gw hanya bisa menangis sambil menengadahkan tangan kehadiratNya.

".. Ya Allah penggegam langit dan bumi, raja atas manusia, yang membolak-balikkan hati makhluknya.. Tolonglah saudara-saudaraku di Palestina, Satukan hati, jiwa, raga seluruh umatMu dalam menghadapi musuh-musuh kami.. "

———-

Iringan Lagu song for gaza- We Will Not Go Down karya Michael Heart mengiringi jemari gw menulis, jemari yang sesekali menyeka air mata kerinduan akan kejayaan Al-Islam.

Bicara tentang lagu Song For Gaza-We Will Not Go Down. berikut lirik-nya dan lagunya bisa di download disini.

We Will Not Go Down

A blinding flash of white light
Lit up the sky over Gaza tonight
People running for cover
Not knowing whether they’re dead or alive

They came with their tanks and their planes
With ravaging fiery flames
And nothing remains
Just a voice rising up in the smoky haze

We will not go down
In the night, without a fight
You can burn up our mosques and our homes and our schools
But our spirit will never die
We will not go down
In Gaza tonight

Women and children alike
Murdered and massacred night after night
While the so-called leaders of countries afar
Debated on who’s wrong or right

But their powerless words were in vain
And the bombs fell down like acid rain
But through the tears and the blood and the pain
You can still hear that voice through the smoky haze

We will not go down
In the night, without a fight
You can burn up our mosques and our homes and our schools
But our spirit will never die
We will not go down
In Gaza tonight

———

Fight for Freedom or Die with honors..


Bebaskan Palestina..

January 6, 2009 – 2:14 am
Subhanallah..

Rasulullah SAW dengan perjuangan yang dahsyat dan pertolongan dari Allah SWT berhasil merubah bangsa-bangsa terdahulu yang selalu merasa bangsanya paling kuat, berselisih dan berperang menjadi umat yang berakhlak baik dan mulia. Rasulullah SAW menyatukan mereka dalam suatu wadah yaitu Ukhuwah Islamyah.

Ketika ada saudaranya yang dianiaya atau di dzolimi, rasa kesukuan, golongan, dan nasionalisme mereka tinggalkan. Mereka akan akan membantu dengan segenap tenaga dan pikiran yang mereka miliki agar saudaranya terbebas dari aniaya. Seperti kata pepatah " Tangan terluka, mulut mengaduh". Begitupula dengan umat Islam, mereka akan merasa sakit bila ada saudaranya disakiti.

Lantas kemana saja mereka sewaktu saudaranya di Afghanistan di bombardir oleh Amerika dan sekutunya, sewaktu pejuang dan rakyat palestina dikejar-kejar tentara israel, sewaktu Amerika dan sekutunya meng-insvasi Irak, Sewaktu anak-anak Libanon tewas tak berdaya dihujani rudal zionis…

Kemana mereka…!!??

"Negara kita juga sedang susah, ngapain mikirin negara lain", "Itu kan urusan negara mereka masing-masing.."

Beberapa penggal kalimat tersebut sering kita dengar bahkan kita ucapkan bila kita bicara tentang saudara kita yang teraniaya itu. Padahal mereka tau yang mereka bicarakan itu saudara mereka yang se-Akidah dengan mereka.
 

MasyaAllah..Bahkan perbedaan aliran menjadi alasan mereka untuk tidak membantu..Astaghfirullah.

Ok-lah mereka bangsa lain, suku lain, Umat Islam yang tidak sepaham dengan kita, itu urusan kedaulatan egara mereka, dan lain-lain.. tapi ingat mereka juga manusia sama seperti kita, Dan sebagai manusia yang memiliki perasaan dan hati nurani, apakah kita akan membenarkan pembantaian itu? karena kita semua juga tau korban-korban yang berjatuhan adalah warga sipil yang terdiri dari orangtua, wanita dan kebanyakan anak-anak yang belum berdosa…

Kemana hati nurani kita..!!??

 

Idul Adha..

December 16, 2008 – 11:38 am

Baru beberapa minggu setelah tanggal 10 Dzulhijjah, tapi suasana Idul Adha sudah tidak terasa lagi. Terasa sekali bedanya dari tahun ke tahun.

Bicara tentang Idul Adha memang tidak akan lepas dari ibadah Qurban, dan kalo bicara kurban rasanya tidak lengkap kalo tidak mengingat lagi kisah atau sejarah dari ritual Qurban itu sendiri.

Qurban adalah bentuk kepatuhan seorang hamba kepada Allah dengan cara menyembelih hewan qurban. Hikmah lainnya adalah bentuk kepedulian terhadap sesama, karena utamanya daging qurban diberikan kepada yang membutuhkan.

Nabi Ibrahim adalah contoh kepala keluarga yang selalu mengedepankan perintah Allah daripada ego-nya sendiri. Seorang anak yang kelahirannya Beliau tunggu selama bertahun-tahun dengan ikhlas beliau kurbankan karena perintah Allah yang datang lewat mimpinya.

Seorang Nabi Ismail pun merupakan contoh anak sholeh yang taat kepada orang tuanya, tanpa berpikir beliau menyambut permintaan ayah-nya itu dengan ikhlas.

"..Kalo memang Allah memerintahkan untuk menyembelihku, lakukanlah.."

Sosok istri yang sholehah juga tergambar dalam sosok Siti Hajar, Ibunda Nabi Ismail. Beliau pun ikhlas anak satu-satunya disembelih atas perintah Allah.

Subhanallah.. Sungguh potret keluarga yang seharusnya menjadi contoh dan panutan bagi keluarga-keluarga muslim. bagaimana kemampuan mereka untuk mengenyampingkan kepentingan pribadi dan selalu mengharap ridha Allah semata.

Kalo boleh membandingkan dengan perilaku keluarga muslim zaman sekarang rasanya seperti "punduk merindukan bulan" untuk dapat meniru keluarga Nabi Ibrahim. memang tidak sedikit juga keluarga yang berusaha untuk selalu dalam ridha-Nya, tapi sepertinya lebih banyak yang jauh dari ridha-Nya.

Jarang sekali orang tua mau mengajak anak-anaknya untuk selalu mendekatkan diri dengan Rabnya. Bahkan Mereka mungkin akan lebih merasa bangga bila anaknya lulus dengan nilai yang baik dibandingkan bila anaknya bisa membaca AlQuran. Mereka akan "cuek" bila anaknya tidak mengerjakan sholat tapi akan marah bila anaknya tidak mengerjakan PR.

Begitupun dengan anak-anak mereka. Tidak jarang seorang anak membangkang perintah orang tuanya walopun perintah itu untuk kebaikan dirinya.

Apakah kecintaan orangtua kepada anak harus mengalahkan kecintaan mereka kepada Allah??

Apakah mereka sudah siap mempertanggung jawabkan "titipan" Allah itu kelak?

Wallahu’alam